3.17.2014

Mengapa Harus Membenci....???

Suatu malam, dengan bersungut-sungut Adi curhat ke ayahnya, “Ayah, temanku sungguh keterlaluan. Dia menghina dan mempermalukan aku di depan teman-teman. Aku sungguh marah dan benciiii… temanku itu.” Setelah mengetahui cerita lengkapnya, sang ayah menasihati, “Sudahlah Di, ajak temanmu itu bicara baik-baik, agar tidak terjadi salah paham lagi. Jangan membenci tapi cobalah mengerti dan memaafkan dia.”
“Tidak bisa dong, Yah. Dia begitu jahat! Keenakan kalau aku berhenti membenci, serta memaafkan dia.” Dengan sengit Adi menyanggah nasihat ayahnya. “Ya sudah, sekarang tidur deh. Besok pagi ada yang harus kita kerjakan.”

Pagi hari, ayah sudah menyiapkan sekarung kerikil yang digantung di pintu pagar belakang. “Adi. Anggap karung ini sebagai temanmu. Pusatkan kebencianmu pada kepalan tanganmu. Tinju sekeras-kerasnya dan sebanyak mungkin karung ini.” Si Adi pun bersiap-siap. Akan tetapi, hanya tiga kali pukulan, dia merasa kesakitan. “Aduuh….sakit, Yah,” teriak Adi sambil mengusap dan meniup kepalan tangannya yang mulai memar dan lecet.
“Kalau karung ini sama dengan teman yang kamu benci, apa dia merasa sakit seperti kamu sekarang?” “Ya enggak lah, Yah.” “Sama seperti yang terjadi padamu. Kebencianmu hanya menyakiti hatimu sendiri. Karena kalau teman itu kamu pukul pun, dia hanya sakit secara fisik. Itu akan cepat disembuhkan. Sedangkan kebencian dalam hatimu tidak akan berkurang, malah semakin besar menguasai hatimu. Sungguh menderita orang yang dipenuhi dengan kebencian. Apakah kamu mengerti?”

Netter yang LuarBiasa,

Kebencian adalah sumber penderitaan, ketidakbahagiaan dan penyakit mental bagi siapa saja yang memeliharanya. Karena saat kita membenci, sesungguhnya orang yang kita benci tidak merasakan apa-pun. Tetapi kebencian itu telah mampu menggerogoti kebahagiaan dan kedamaian kita.
Demi ketenangan, kedamaian, dan kebahagaiaan.. cobalah berdamai dengan diri sendiri dan buang semua rasa benci di dalam hati.  Niscaya hidup kita akan jauh lebih tenang, damai, dan bahagia.

Salam hangat luar biasa!

Menuruti Aturan, Patuh Pada Hukum

Hukum harus ditegakkan sesuai yang diamanatkan. Dengan begitu, segala bentuk penyelewengan akan mendapatkan balasan yang dapat menjadi pembelajaran kehidupan. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak dari kisah berikut.

Suatu kali, di sebuah desa, terkenal seorang hakim desa yang sangat adil. Ia dikenal bijaksana dengan segala keputusan-keputusannya, serta tak pandang bulu kepada siapa pun. Mereka yang bersalah, akan diberikan hukuman setimpal. Sementara mereka yang terbukti tidak bersalah pun akan segera dibebaskan dari segala macam tuntutan. Selain dikenal tegas dan adil, ia juga dikenal hakim bersih yang kaya akan belas kasihan. Karena itu, semua orang di desa tersebut sangat hormat pada sang hakim. Hampir semua keputusan sulit, bisa dipecahkan dengan kebijaksanaan yang dimilikinya. Suatu kali, ada saudagar kaya raya yang mengadu pada sang hakim. Menurut saudagar kaya tersebut, ia menemukan seorang nenek tua yang mencuri buah-buahan di kebunnya. Sang saudagar menuntut agar nenek tersebut dihukum karena sudah melanggar hukum.

“Wahai Hakim, saya adalah saudagar jujur yang hidup dengan selalu menaati hukum. Kemarin, saya menjumpai nenek tua ini sedang mengambil buah yang bukan haknya di kebun saya. Anda adalah hakim yang adil, saya rasa pasti ada hukuman yang pantas sebagai pelajaran kepada siapa pun yang melanggar hukum di negeri ini,” sebut saudagar. “Tuan Hakim… kasihanilah saya. Sebagai orangtua yang sudah hidup berkekurangan, saya terpaksa mengambil buah itu saking laparnya. Hamba tak tahu lagi harus mencari makanan ke mana lagi. Tak ada orang yang mau membantu saya. Padahal, saya juga masih harus menghidupi dua cucu saya yang ditinggal meninggal orangtuanya. Saya sudah berusaha mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang guna membeli makanan. Tapi, dengan tubuh renta ini, tak ada seorang pun yang mau mempekerjakan saya…,” ujar nenek yang didakwa mencuri dengan memelas.

Sang hakim tampak melihat si nenek dengan pandangan yang kasihan. Begitu juga pengunjung yang kebetulan hadir di ruang sidang tersebut. Namun, sang saudagar yang merasa dalam posisi benar terus meminta agar si nenek dihukum. Ia berdalih, agar tak ada lagi orang yang berbuat cela di desa tersebut, sehingga ketenteraman dapat ditegakkan. Sang hakim pun tampak berpikir sejenak. Ia tahu, kalau membebaskan nenek tersebut, berarti ia tak menegakkan hukum yang sudah ditentukan. Sebaliknya, jika ia menghukum nenek tersebut, batinnya terusik oleh rasa kasihan karena nasib mengenaskan si nenek. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, sang hakim pun memutuskan. “Nenek… Saya adalah hakim yang harus memutuskan perkara seadil-adilnya. Karena itu, menimbang bahwa perbuatan mencuri, apa pun alasannya adalah hal yang salah, maka nenek tetap harus dihukum. Maka, dengan ketokan palu ini, nenek saya hukum membayar denda 100 tael. Tapi, jika tidak bisa membayar, maka nenek harus dihukum kurungan selama enam bulan.”

Sang nenek tersimpuh berurai air mata mendengar hukuman sang hakim. Namun, tak lama setelah memberikan hukuman, sang hakim turun dari meja pengadilan. Ia mendekati nenek lantas membuka topi baju kebesaran hakimnya. “Hari ini saya sudah menegakkan keadilan. Tapi saya juga ingin menghukum diri saya sendiri yang tidak adil dalam hidup. Karena itu, hari ini juga, saya menjatuhkan hukuman pada diri saya sendiri dan kepada semua yang hadir di sini, termasuk engkau saudagar kaya yang datang meminta keadilan. Saya, dan saya rasa semua hadirin di sini, semua sudah bersalah.. membiarkan seorang nenek miskin yang tinggal dengan cucunya hidup sampai kelaparan. Di manakah rasa keadilan kita, sampai bisa membiarkan seorang tertindas oleh hidup yang kejam, tanpa ada satu pun yang memberikan perhatian..?

Karena itu wahai Nenek, sebagai hukuman, aku berikan denda masing-masing yang hadir di sini minimal 10 tael untuk diberikan kepadamu. Ini sekaligus jadi pelajaran kepada kita semua, bahwa kita hidup tak semata berperilaku adil, tapi juga harus manusiawi,” sebut sang hakim, sembari mengulurkan uang ke dalam topi toganya, dan segera mengedarkan topi tersebut ke semua hadirin untuk membayar denda yang telah ditetapkannya.

Netter yang bijaksana,

Kisah yang sudah ditulis dalam berbagai versi tersebut mengajarkan banyak hal kepada kita. Pertama, bagaimana pun, hukum harus ditegakkan. Yang namanya menuruti aturan, taat pada hukum, tak boleh ada tawar-menawar. Dengan begitu, setiap orang akan merasa terjaga hak dan kewajibannya sebagai seorang warga negara. Sehingga, harmonisasi kehidupan dapat berlangsung dengan baik.

Namun pada sisi lain, ada nilai kedua, yakni bahwa kita juga tetap harus berpegangan pada nilai kemanusiaan dalam menjalankan norma kehidupan bermasyarakat. Bukan berarti “membenarkan” perbuatan yang salah—seperti kisah si nenek—tapi kita juga harus melihat dari berbagai sudut pandang untuk menilai baik dan benar atau salah tidaknya sebuah peristiwa. Dengan begitu, kebijaksanaan kita untuk mengambil keputusan akan mendatangkan kebaikan pada semua pihak.

Setuju? Salam sukses Luar Biasa!

Kontrol Emosi

Di suatu pagi yang sibuk, seorang pemuda tampak tergesa-gesa menyetop sebuah taksi di jalan. Sebuah taksi berhenti menghampiri pemuda tersebut. “Selamat siang. Hendak pergi ke mana Dik?” sapa sang sopir ramah. “Ke gedung jalan utama, tolong cepat ya pak, hampir terlambat nih!” seru si pemuda.“Baik. Saya cari jalan alternatif biar bisa lebih cepat sampai.”
Saat mobil bergegas meluncur, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan melintas dengan kencang. Hampir saja terjadi senggolan. Sopir taksi yang kaget menginjak rem mendadak. Begitu pun si pemuda, merasa sangat terkejut. Sopir mobil yang hampir menyerempet segera berteriak kasar, memaki sopir taksi yang dianggap berbuat salah. Mendengar umpatan kasar itu, penumpang taksi di belakang ikut marah.
“Ladeni, Pak. Orang dia yang salah kok malah maki-maki. Dasar nggak tahu aturan!” Sopir taksi membuka jendela dan menjawab dengan jawaban yang mengejutkan. “Silakan lewat Pak. Hati-hati di jalan!”
Si pemuda terheran-heran berkata, “Bapak, kok bisa sabar gitu siiih….?” Dengan senyum tertahan, sang sopir menjawab. “Saya bisa saja ikut marah dan emosi, tapi buat apa? Kita kan mau buru-buru.. Kalau berantem bisa jadi malah terlambat. Saya sih memilih jadi 'truk bak sampah' saja. Menampung  buangan ‘sampah’ dari orang, tapi kan itu sementara. Semua akan berlalu di tempat pembuangan akhir. Dengan begitu, semua masalah kan bisa diselesaikan dengan damai, kan?”
Netter yang luarbiasa,
  
Apakah kita tidak boleh marah? Pasti boleh. Tapi harus belajar untuk marah yang terkendali, dan tanpa ditumpangi dengan kebencian dan dendam. Emosi marah yang terkendali adalah gejolak rasa yang dilandasi dengan niat baik. Tanyakan ke diri sendiri, apakah dengan marah bisa menyelesaikan masalah? Atau sebaliknya, dengan marah akan menambah parah? Mari, hadapi semua dengan ketenangan hati, keluasan jiwa, dan terangnya pikiran. Kalau pun terpaksa menerima ‘sampah’—baik berupa masalah, halangan, atau rintangan—kita justru akan jadi insan yang kreatif sehingga bisa “mendaur-ulang” sampah jadi barang penuh berkah. Sehingga kita senantiasa bisa menjadi pribadi yang terkendali dan penuh suka cita.
Salam sukses luar biasa!!